Bentrokan Pulau Rempang

bentrokan pulau rempang

Bentrokan antara aparat dan warga terjadi di Pulau Rempang, Kepulauan Riau setelah aparat memaksa masuk ke kampung adat untuk melakukan pengukuran lahan demi kepentingan proyek strategis nasional.

Sejumlah laporan mengatakan terjadi penembakan gas air mata, yang mengenai dua bangunan sekolah. Seorang saksi mata mengatakan 11 siswa dilarikan ke rumah sakit.

Setidaknya enam warga telah ditangkap oleh polisi, menurut lembaga pemantau. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo buka suara terkait peristiwa bentrokan yang terjadi antara aparat gabungan TNI-Polri dengan warga Pulau Rempang, Batam, pada Kamis (7/9) hari ini.

Listyo menjelaskan saat ini memang sedang dilakukan upaya pembebasan lahan oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam menyusul rencana pengembangan Rempang Eco City.

Akan tetapi, kata dia, pada saat yang bersamaan masih ada sekelompok warga yang menolak rencana pengembangan dan tetap menguasai lahan itu.

“Terkait dengan Pulau Rempang, di sana ada kegiatan terkait dengan pembebasan atau mengembalikan kembali lahan milik otoritas Batam yang saat ini mungkin dikuasai beberapa kelompok masyarakat,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta Pusat.

Juru bicara Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), penanggung jawab proyek tersebut, mengatakan pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana pengukuran lahan, seraya menyebut warga yang ditangkap sebagai “oknum provokator”.

Sebanyak 16 kampung adat di Pulau Rempang dan Pulau Galang, Kepulauan Riau terancam tergusur oleh pembangunan proyek strategis nasional bernama Rempang Eco City.

Bentrokan di Pulau Rempang