Kenaikan Yield Treasury

Pasar Saham Amerika

Yield Treasury

Dolar bergerak menguat pada hari Senin kemarin, didukung oleh kenaikan Yield Treasury karena potensi atau peluang pada kenaikan suku bunga Federal Reserve (pada bulan Mei mendatang) melonjak menyusul data terbaru yang menunjukkan penguatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja (NFP Jumat minggu kemarin) dan semakin meredanya tekanan dalam sistem perbankan yg sempat menghebohkan pasar finansial global pada bulan lalu.

Data dari Fed terbaru menunjukkan bahwa pinjaman komersial dan industri di bank komersial turun menjadi $2,756 triliun dalam pekan yang berakhir 29 Maret, dari $2,824 triliun dalam pekan yang berakhir 15 Maret.

Simpanan di bank-bank komersial Amerika juga naik menjelang akhir Maret lalu untuk pertama kalinya dalam waktu sekitar satu bulan. Menunjukkan bahwa tekanan dari penarikan simpanan oleh para nasabah mereda.

Yields Treasury naik karena repricing (penilaian ulang) yg hawkish oleh para pelaku pasar mengenai peluang kenaikan suku bunga Fed, dengan Yield Treasury 2 Tahun-nan Amerika Serikat bertahan di angka 4%, mendorong dolar naik lebih tinggi.

kenaikan yield Treasury disebabkan oleh adanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang lebih tinggi di masa depan. Kebijakan hawkish dari the Fed dapat mempengaruhi permintaan terhadap Treasury bond, sehingga mendorong naiknya yield.

Dalam situasi seperti ini, biasanya nilai tukar dolar AS dapat menguat karena permintaan yang lebih tinggi terhadap aset denominasi dolar AS. Namun, perlu diingat bahwa faktor lain juga dapat mempengaruhi nilai tukar, seperti sentimen pasar dan kondisi ekonomi global secara keseluruhan.

pergerakan pasar selalu sulit diprediksi dengan pasti, dan ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga aset dan nilai tukar mata uang. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan investasi.

Data Ekonomi Makro Amerika

Sementar itu, data ekonomi makro Amerika yg dirilis semalam ikut memberikan dukungan penguatan utk mata uang Dolar Amerika. Faktor lain juga dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang. Seperti kondisi ekonomi global secara keseluruhan, sentimen pasar, atau kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah AS. Oleh karena itu, pergerakan pasar selalu sulit diprediksi dengan pasti, dan sangat penting untuk melakukan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan investasi.

US Final Wholesales Inventories m/m di Rilis 0.1%, lebih baik dari Forecast dan Last 0.2%
– Indeks Dolar naik 0,52% menjadi 102,26

* Mata uang YEN Jepang melemah karena Gubernur Bank of Japan baru Kazuo Ueda mengisyaratkan tidak terburu-buru untuk menarik kembali stimulus besar-besaran (tidak terburu buru melakukan oengetatan kebijakan moneter).
– Yen Jepang melemah sebesar 1,12% pada 133,615 yen, setelah sempat mencapai 133,87 yg merupakan lejel tertinggi sejak 15 Maret

OIL

OIL ditutup melemah pada hari Senin kemarin, setelah naik selama tiga minggu berturut-turut. Melemahnya Oil lebih disebabkan oleh kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga FED lebih lanjut yang dapat mengganggu pemulihan permintaan. Hal tersebut “menetralkan” potensi terjadinya keterbatasan supply minyak mentah karena pemotongan pasokan dari produsen OPEC+, perlu diingat bahwa masalah supply ini menjadi sisi pendukung harga Oil.

Sebagai pengingat, Brent dan WTI sempat melonjak lebih dari 6% pada minggu akhir bulan Maret lalu (WTI mencapai $81,81 dan Brent mencapai $86,44) di tengah panasnya pengumuman OPEC+ yg akan menambah jumlah pengurangan produksinya.
Selain dari OPEC+, laporan dari EIA minggu lalu mengenai jumlah cadangan minyak mentah dalam penyimpanan Amerika yg turun 3,739 juta barel selama pekan yang dihitung hingga tanggal 31 Maret juga menopang harga Oil sepanjang akhir Maret. Pada minggu sebelumnya (minggu yg dihitung hingga tanggal 24 Maret), stok minyak mentah turun 7,489 juta barel.

laporan penurunan stok bensin dan sulingan yang substansial

Dolar Menguat

Di lain hal, Dolar Amerika yang menguat naik setelah data sektor ketenagakerjaan menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat. Meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve lagi. Seperti yg sudah kita ketahui bersama. Menguatnya dolar membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya dan dapat membebani permintaan.
– Brent turun 96 sen, atau 0,2%, menjadi $84,58 per barel.
– West Texas Intermediate juga turun 94, atau 0,1%, menjadi $79,74.

Emas melemah hingga kembali bergerak di bawah level $2.000 pada hari Senin kemarin. Tertekan oleh USD yg menguat akibat rilis data NFP Jumat pada hari Jumat lalu. Sementara para pelaku pasar juga tampak menetralkan posisi utk menghadapi data inflasi minggu ini yang dapat mempengaruhi jalur kenaikan suku bunga FED.

Yield Treasury Amerika naik menyusul laporan NFP yang menunjukkan laju perekrutan yang masih kuat di bulan Maret. Hasil dari laporan NFP minggu lalu kemungkinan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga lagi.

Peluang dan potensi kenaikan suku bunga 25 basis poin bulan Mei sekarang dipatok pada 72% , menopang penguatan dolar. Membuat emas batangan berdenominasi dolar kurang menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

Sedikit pengingat, pada Jumat minggu kemarin. Pasar emas tutup karena libur peringatan hari raya keagamaan, padahal pada malam harinya tiga serangkai data super dari Amerika tetap di rilis sesuai jadwal dengan hasil yg Bagus untuk USD. Akibatnya, emas membuka perdagangan hari Senin dengan gap down sekitar $12.

Sentiment positif untuk USD akibat rilis data Amerika Jumat lalu (Khususnya data NFP) berlanjut mendominasi pasar dan membuat emas melemah dalam perdagangan harian.

Laporan data Final Wholesales Inventories bulanan yg di rilis semalam membaik melebihi perkiraan ikut memberikan tekanan pelemahan untuk emas.
– Emas spot turun hampir 1% menjadi $1.988,88 per troy ounce.
– Emas berjangka Amerika turun 1,1% pada $1.989,10.

Focus News :
– No High Impact Data
*) F: Forecast (perkiraan) , P: Previous (sebelumnya)

 

Market Review :

Gubernur baru Bank Sentral Jepang Ueda : ia akan berkomunikasi erat dengan pemerintah dan memandu kebijakan moneter secara fleksibel di tengah ketidakpastian prospek ekonomi yang tinggi. Tidak perlu segera merevisi pernyataan di mana bank sentral menargetkan target inflasi 2% sedini mungkin