Kenaikan Suku Bunga

Kenaikan Suku Bunga

Dolar Amerika jatuh ke level terendah dalam hampir sembilan bulan terakhir pada perdagangan hari Kamis setelah data CPI menunjukkan inflasi Amerika mereda. Memperkuat asumsi bahwa Federal Reserve akan kurang agresif dengan kenaikan suku bunga ke depannya.

Dolar juga tertekan oleh menguatnya Yen Jepang yg melonjak. Mencapai level termahal lebih dari enam bulan terakhir terhadap USD. Di tengah laporan bahwa Bank of Japan dapat mengambil langkah lebih lanjut untuk mengatasi efek samping dari pelonggaran moneter.

Mata uang Eropa juga ikut menekan Dolar setelah pada hari Rabu sebelumnya ECB memberikan isyarat bahwa mereka akan terus lanjut menaikkan Suku Bunga Euro.

Data Ekonomi Makro menunjukkan indeks harga konsumen Amerika (CPI) turun 0,1% bulan lalu. Menandai penurunan pertama dalam data sejak Mei 2020.
Tekanan harga mereda karena siklus pengetatan kebijakan moneter oleh FED mengurangi permintaan, dan hambatan dalam rantai pasokan mereda.
Data dari sektor Ketenagakerjaan dilaporkan membaik, namun tidak cukup kuat untuk meredam tekanan pelemahan yg menerpa Dolar Amerika. Klaim Pengangguran Awal Mingguan turun ke 205K, jauh lebih baik dari yg diperkirakan 215K.
– Indeks dolar AS turun 0,815% pada 102,20, level terendah sejak 6 Juni.

SAFE HAVEN

Emas menguat pada perdagangan hari Kamis kemarin, utamanya pada sesi Market Amerika tadi malam. Melemahnya Indeks USD menjadi penopang utama penguatan emas, Dolar yg tertekan oleh laporan tingkat inflasi Amerika yg menurun membuat emas melonjak hingga sentuh level $1900. Merupakan level tertinggi sejak 9 bulan terakhir, level $1900 ini terakhir terlihat pada bulan Mei 2022.

Seperti yg sudah diketahui bersama, menurunnya tingkat inflasi menguatkan asumsi pelaku pasar bahwa FED akan memperlambat laju kenaikan suku bunga nya, dan ini menekan indeks dolar.

Emas sempat bergerak fluktuatif selama beberapa saat setelah data Inflasi di rilis. Melonjak hingga mencetak High harian di level $1901.43, namun jatuh terkoreksi tajam pada jam berikutnya hingga kembali ke level sebelum rilis data.
Namun emas kembali merambat pelan pelan hingga menutup perdagangan harian di dekat level tertinggi harian.
– Emas spot naik 0,1% ke $1.897,92, Harga naik 1,7% sejauh minggu ini.
– Emas berjangka Ameirka naik 0,2% menjadi $1.901,80.

ENERGY

OIL menguat naik sekitar $1 per barel pada hari Kamis, didukung oleh data ekonomi makro yang menunjukkan tingkat inflasi Amerika secara tak terduga turun pada bulan Desember. Selain itu optimisme atas prospek permintaan China.

Seperti yg telah diketahui bersama,Turunnya tingkat inflasi menguatkan ekspektasi pelaku pasar bahwa FED akan memperlambat laju kenaikan suku bunga USD. Ini bisa melemahkan mata uang USD.
Melemahnya USD memberi dorongan penguatan untuk Oil karena USD sering bergerak berlawanan dengan nilai komoditi Oil.

CPI Amerika turun 0,1%, menunjukkan inflasi sekarang dalam tren penurunan yang berkelanjutan. Pengimpor minyak utama China membuka kembali kegiatan ekonominya setelah berakhirnya pembatasan COVID-19 yang ketat. Meningkatkan harapan akan permintaan minyak yang lebih tinggi.
– Brent di tutup pada level $84,03 per barel, naik $1,36, atau 1,7%.
– West Texas Intermediate menetap di $78,39 per barel, naik 98 sen, atau 1,3%

Minyak Mentah

Focus News :
– 22:00 | USD | Prelim UoM Consumer Sentiment ( F: 60.8 , P: 59.7 )
*) F: Forecast (perkiraan) , P: Previous (sebelumnya)

Market Review

– Departemen Tenaga Kerja AS : ada 205.000 klaim awal tunjangan pengangguran dalam sepekan. Dibanding pekan sebelumnya 206.000 klaim
– Departemen Tenaga Kerja AS : indeks harga konsumen (CPI), yang mengukur biaya barang dan jasa, turun 0,1% tingkat bulanan dan turun menjadi 6,5% tingkat tahunan pada Desember, dimana pada November berada di 7,1%, melambat enam bulan beruntun dan terendah seperti April 2020. CPI inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,3% tingkat bulanan, dan turun 5,7% tingkat tahunan (dari 6,0%)
– Kota-kota di China mengalami tingkat kemacetan yang mencapai rekor, sementara maskapai penerbangan domestik juga mengalami lonjakan penumpang, menjadi pertanda bagi permintaan bahan bakar di negara tersebut, dengan China yang juga menerbitkan kuota impor minyak mentah lebih tinggi untuk tahun 2023