Agresivitas The FED

Indeks futures Dow naik tipis

FED akan melunakkan sikap Agresifnya untuk kenaikan suku bunga

Dolar Amerika melemah lagi pada perdagangan Senin kemarin setelah sempat turun tajam pada hari Jumat sebelumnya. Pelemahan Dolar masih ditopang oleh seputar ekspektasi pasar bahwa FED akan memperlambat laju kenaikkan suku bunganya tahun 2023 ini dan meningkatnya Risk Appetite.
Para pelaku pasar tampak yakin bahwa Fed tidak akan menaikkan suku bunga lebih dari 5%, dari kisaran saat ini 4,25%-4,50%. Karena tekanan inflasi mereda dan pertumbuhan ekonomi berjalan secara moderat.

Para Pelaku Pasar hari ini jelas berfokus pada Pidato atau Pernyataan dari Powell nanti malam untuk mendapatkan petunjuk mengenai apa yg menjadi pandangan FED pada kondisi ekonomi Amerika akhir akhir ini. Laporan CPI Amerika Kamis lusa juga sangat dinantikan oleh pelaku pasar karena bisa dijadikan landasan asumsi dan ekspektasi gerakan kebijakan FED selanjutnya.

CPI

CPI, data yg biasa disebut data tingkat Inflasi, akan di rilis Kamis malam lusa dengan Forecast yg menunjukan penurunan tingkat Inflasi.
– Indeks dolar berada di level terendah 7 bulan terakhir, di tutup turun sebesar 0,81% di 103,033. Indeks, dolar sempat jatuh sebesar 1,15% pada hari Jumat karena Para Pelaku pasar beralih ke aset berisiko.
Emas menguat pada perdagangan hari Senin kemarin meskipun di tutup dalam kondisi terkoreksi dari level High harian. Emas bergerak fluktuatif dalam range yg cukup kecil seiring dengan minimnya data. Pelaku pasar tampak melakukan aksi wait and see pada rilis data Inflasi Amerika Kamis lusa.

Melemahnya Indeks USD Senin kemarin juga ikut mendukung penguatan emas, pelaku pasar tampak meyakini bahwa FED akan memperlambat laju kenaikkan suku bunga nya, dan hal tersebut menekan mata uang dolar.
– Emas spot naik 0,3% menjadi $1.870,45, setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 9 Mei di awal sesi di $1.881,5.
– Emas berjangka Amerika ditutup naik 0,4% pada $1.877,8.

ENERGY

OIL menguat pada perdagangan hari Senin kemarin didukung oleh pembukaan status PPKM di China yg memunculkan harapan kembalinya permintaan minyak mentah dari China untuk kedepannya.
China sepenuhnya membuka kembali perbatasannya untuk perdagangan internasional untuk menghilangkan sisa-sisa terakhir dari aturan COVID yang kejam yang membentuk sebagian besar kebijakan sosialnya selama tiga tahun terakhir.

Permintaan minyak di China biasanya meningkat setiap tahun setelah Tahun Baru Imlek, yang tahun ini jatuh tempo pada akhir Januari. Tetapi dengan Beijing beralih dari kebijakan nol COVID ke kebijakan “COVID-apa saja”. Belum ada yang tahu bagaimana permintaan minyaknya akan berjalan. Data pekan lalu menunjukkan aktivitas manufaktur China menyusut selama lima bulan berturut-turut pada Desember. Karena negara itu bergulat dengan lonjakan kasus virus corona yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun demikian, Beijing terus bersemangat membuka kembali status pembatasannya, dengan para pejabat mengatakan mereka mengharapkan sekitar 2 miliar perjalanan domestik selama musim Tahun Baru Imlek, hampir dua kali lipat tahun lalu dan 70% dari tingkat tahun 2019.
– Minyak mentah Brent naik $1,08, atau 1,4%, menjadi $79,65 per barel.
– West Texas Intermediate naik 86 sen, atau 1,2%, menjadi $74,63.

Focus News :
– 17:10 | JPY | BoJ Gov Kuroda Speaks
– 21:00 | USD | Fed Chair Powell Speaks
*) F: Forecast (perkiraan) , P: Previous (sebelumnya)

Market Review :
– AS kesulitan mengisi ulang SPR setelah melepas 220 juta barel. Penolakan tawaran memicu spekulasi bahwa mengisi ulang SPR menjadi tantangan. Untuk Februari, rencana pembelian 3 juta barel, idealnya ketika harga turun menjadi $70 per barel. Spekulasi muncul bahwa DoE mungkin tidak memiliki cukup dana mengisi ulang SPR sepenuhnya, diperkirakan hanya memiliki daya beli sebesar $0,48 miliar. Dengan $70 per barel yang diinginkan, akan memberikan dana cukup untuk mengisi ulang SPR menjadi 440 juta barel

Minyak Mentah